Minggu, 20 Mei 2012

Menetapkan Tujuan Hidup

Ketika suat hari kita diajukan pertanyaan "Apakah tujuan hidupmu?" Apakah jawaban kita? Tampaknya pertanyaan ini mudah sekaligus sulit untuk dijawab. Sehingga tidak heran pertanyaan ini terkadang menjadi ancaman bagi mereka yang tidak mengerti hidup, namun bagai cahaya yang terus memancar bagi yang sudah mengerti makna kehidupan yang sesungguhnya.

Hidup tanpa tujuan ibarat rumah tanpa lampu, dunia tanpa kutub, bumi tanpa gravitasi, dan tata surya tanpa matahari.
Hidup tanpa tujuan ibarat kata-kata tanpa huruf, ucapan tanpa suara, pandangan tanpa mata, dan pendengaran tanpa telinga.
Hidup tanpa tujuan juga ibarat kepala tanpa otak, dada tanpa jantung, dan lutut tanpa tungkai.

Apa pun tujuan hidup akan memberikan makna yang berarti dalam menghabiskan waktu-waktu kehidupan ini sendiri sehingga lebih berarti. Kapan tujuan tersebut akan tercapai? Ketika kita sudah memulai mengerjakan pencapaian tujuan tersebut pada saat itu pula tujuan mulai dicapai.

Bukankah sukses lebih merupakan suatu perjalanan (journey) daripada sekadar berada pada posisi pencapaian cita-cita. Tujuan hidup berada dalam koridor waktu, namun dia tidak didikte waktu.

Waktu akan terus bergulir sekalipun manusia tidak memiliki tujuan hidup. Bagi mereka yang memiliki tujuan hidup, waktu merupakan aset yang sangat berharga. Kita memiliki waktu yang sama namun memiliki kemampuan dan kompetensi yang berbeda-beda. Mereka yang dapat memanfaatkan waktunya dengan bijaksana sering mengalahkan mereka yang memiliki kemampuan lebih.

Pemanfaatan waktu kerja 8 jam per hari sangat ditentukan sejauh mana kita mengartikan dan memosisikan diri pada tujuan hidup. Membuat kehidupan ini bermakna, berarti kita memulainya dengan menetapkan tujuan hidup yang jelas dan terarah. Tujuan yang tertata dengan baik pun harus dilakoni dengan tepat. Kita tidak dapat memastikan apa yang terjadi di tahun-tahun mendatang, namun kita dapat memilih dan memastikan tujuan hidup kita saat ini. Mulai dari tujuan spiritual, sosial, fisik, mental, ekonomi, dan keluarga dapat kita rancang dengan sungguh-sungguh hingga menjadi satu roda kehidupan yang dinamis dan bermakna.

(Sumber: Setengah Isi Setengah Kosong)

 

Selasa, 01 Mei 2012

Catatan Kecil di Hari Buruh Internasional




Hari ini tepat pada tanggal 1 Mei adalah Hari Buruh Internasional yang biasa disebut May Day. Buruh dari berbagai Federasi buruh dan serikat pekerja turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutannya. Saya ambil bagian menjadi pewarta untuk sebuah media online, dan ini pertama kalinya saya meliput sebuah aksi yang masif. Saya mengikuti para buruh yang melakukan longmarch sepanjang jalan Sudirman dari Senayan hingga bundaran HI. Dan hal yang paling menggetarkan adalah saat mereka berhenti dekat patung Jenderal Sudirman dan melakukan solat zuhur bersama. Saat azan berkumandang ada suatu perasaan aneh. Perasaan haru, sedih tapi juga kesal. Ada sesuatu yang berkecamuk. Perasaan yang seolah mewakili kegeraman atas gagalnya pemimpin bangsa ini membawa kami pada kesejahteraan.

Saya memang masih berstatus mahasiswa yang magang pada salah satu media massa online, meski demikian lingkungan saya dekat sekali dengan kehidupan buruh. Di belakang rumah saya ada kontrakan yang dihuni oleh para buruh yang berkerja di pabrik garmen dan elektronik. Dan ada juga teman, sahabat kecil saya yang kini bekerja sebagai buruh di pabrik otomotif. Belum lagi keluarga saya, seperti paman ipar saya dan sepupu saya.

Menjadi buruh memang sudah sistem yang mengaturnya. Contoh, ketika sahabat kecil saya itu tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi maka secara otomatis untuk menyambung hidup ia melamar pekerjaan dan bursa pekerjaan yang terbuka lebar adalah menjadi buruh yang bekerja di pabrik dan menggunakan shift. Jika pengetahuan keluarga tentang pendidikan minim, meski ia dari keluarga mampu, yang terpikir setelah lulus SMA adalah bekerja.

Hari ini para buruh menyuarakan tuntutannya yakni penghapusan sistem kerja kontrak, outsourcing yang disinyalir merupakan bentuk penjajahan baru, peningkatan kesejahteraan dengan menaikkan upah, komitmen pemerintah untuk jaminan sosial bagi kaum buruh, dan tanggal 1 Mei dijadikan hari libur nasional. Tapi rupanya Indonesia yang katanya negara Pancasila cenderung lebih kapitalis daripada Amerika. Di Amerika tanggal 1 Mei menjadi hari libur. Mungkin tanggal ini cenderung dianggap kekiri-kirian, jadi libur nasional itu hanya milik tanggal kanan seperti hari-hari raya agama, hari kemerdekaan, dan hari-hari lainnya. Buruh adalah kaum mayoritas yang dimarjinalkan. Diperas tenaganya dan dibuang ampasnya.


Saya jadi teringat sebuah film dokumenter yang dibuat oleh John Pilger ‘The New Economic Order’. Di sana disebutkan bahwa Indonesia negara kaya yang sedang dibentuk menjadi negara miskin dengan penduduk yang tidak memiliki kapasitas untuk bersaing di dunia globalisasi selain menjadi buruh yang bekerja pada perusahaan asing. Pemerintah Indonesia dengan sengaja membuat tarif atau upah pekerja murah agar menarik hati para investor. Selain itu, mereka terpaksa bekerja meski hanya dengan upah yang minim karena tingkat pengangguran sudah sedemikian tinggi. Jadi, daripada tidak bekerja lebih baik bekerja dengan upah yang minim.

Sangat disayangkan jika gerakan massal ini hanya menjadi ritual semata, karena buruh sesungguhnya memiliki kekuatan yang sangat ‘huge’. Saya melihat belum ada perubahan yang signifikan bagi kehidupan buruh, meski May Day telah dilakukan berkali-kali. Dan meski seorang Dita Indah Sari seorang aktifis buurh yang pernah dipenjara telah masuk menjadi staf ahli di kementrian tenaga kerja. Kenapa, karena kita dilemahkan oleh undang-undang dan peraturan. Para kapitalis yang berekspansi di Indonesia mudah menyogok mafia di DPR untuk melegalkan sebuah undang-undang yang sifatnya sangat inti bagi negara hukum seperti Indonesia. Jadi yang busuk adalah anggota DPR-nya. Yaa, meski tidak semua, tapi yang benar dan jujur cenderung minoritas.

Mungkin bagi sebagian orang yang beruntung seperti saya, kamu, dan dia yang dapat duduk di bangku kuliah dan menikmati manisnya menjadi mahasiswa kurang menyadari bahwa peran yang sedang kita jalani saat ini akan menentukan ke mana kita menuju, dan akan menjadi apa kita ke depannya. Mungkin kita akhirnya baru menyadari ketika kita menjadi buruh, buruh media massa, buruh kantor-kantor swasta dengan gaya sedikit necis daripada buruh pabrik. Bahwa kita sama seperti mereka. Maka, jangan sia-siakan peran mahasiswa yang tidak semua orang dapat mengecapnya dengan hanya meghabiskan waktu nongkrong di mall, bukan membaca dan berdiskusi atau menempa diri. Dan menghabiskan uang untuk beli pulsa bukan hal lainnya yang dapat meningkatkan kompetensi diri. 

Rabu, 29 Februari 2012

Panduan Berpolitik dari Ruang Keluarga*

*Tulisan ini dimuat di Harian Suara Tangsel, 29 Februari 2012

Saat ini masyarakat dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka hidup di era informasi, namun tidak banyak yang menyadari adanya hujan informasi. Masyarakat Indonesia masih banyak yang buta terhadap ‘alfabet’ media massa. Maka tak heran bahwa kini strategi para kaum elit adalah dengan tampil sedemikian rupa agar mampu tampil dengan baik di media massa padahal hanya simbolis semata tanpa substansi. 

Ketika televisi lahir di Amerika, ada sebuah iklan di televisi RCA di tahun 1950-an yang mengatakan bahwa “Televisi membawa politik ke dalam masyarakat melalui ruang keluarga”. 

Indonesia pun memiliki sejarah yang sama, bahwa televisi adalah alat propaganda pemerintah kepada rakyatnya. Ketika pada tahun 1967 TVRI lahir yang dibidani oleh proyek mercusuar. Kebijakan penyiaran pasca kolonialis diarahkan untuk menciptakan “harmoni semu” dengan sensor materi pemberitaan. Ketika kemudian swasta hadir di tahun 1990 televisi tetap menjadi media yang hanya menyiarkan kebaikan-kebaikan pemerintah dan sosialisasi program pemerintah, selain tentu saja menyiarkan program hiburan. Komunikasi yang diciptakan adalah satu arah. 

Dewasa ini, dunia media massa Indonesia dipenuhi oleh praktik-praktik yang sama. Perbedaan dengan Orde Baru hanyalah siapa yang memainkan media saat ini bukan hanya pemerintah, namun mereka yang berhasrat untuk menduduki jabatan RI 1. Hegemoni media massa yang lahir dari lemahnya kontrol pemerintah dengan tidak adanya regulasi tegas tentang kepemilikan dan penyiaran membuat para pemilik media massa leluasa menjalankan misi pembentukan opini publik. 

Televisi hanya digunakan sebagai alat penyampai citra, warna dan logo partai politik tanpa ada proses pendidikan politik di dalamnya. Artinya para politikus tidak ada itikad baik untuk mencerdaskan pemilihnya. Tentu ada tendensi di dalam setiap pesan yang disampaikan. Karena saat ini kita hidup di dalam dunia alih-alih. 

Pemilu 2014 memang masih 2,5 tahun lagi, namun euforia pemenangan dan pencarian dukungan sudah semakin semarak di televisi. Sebut saja peminangan CEO MNC Hary Tanusudibyo oleh pemilik stasiun Metro TV Surya Paloh. 

Apa kabar dengan rakyat sebagai penonton panggung politik? Dunia media massa dan politik memiliki kesamaan, dramaturgi yang senantiasa membutuhkan sosok seorang pahlawan di dalamnya. Maka selagi media massa dan politik hadir di tengah masyarakat khususnya mereka yang masih buta ‘alfabet’ politik dan media massa hanya akan menjadi penonton yang pasif, dan celakanya jika mereka langsung mengamini informasi tersebut. 

Dan sampai saat ini televisi dan dunia politik kita tidak menampilkan sosok pahlawan itu. Sekali lagi hanya pengenalan simbol partai seperti logo dan warna, serta siapa kandidat yang dicalonkan. Ibarat artis, iklan politik adalah tempat memperkenalkan kandidat semata, sedangkan tahap kampanye nantinya hanya akan menjadi ajang ‘jumpa fans’ semata yang sifatnya simbolis dan tentu saja jauh dari substantif. 

Jika pembiaran praktik seperti ini terus dijalankan, maka panggung politik Indonesia hanya akan dipenuhi oleh citra yang abstrak dan simbolis. Dan media massa seperti kaca buram yang tidak dapat merefleksikan keadaan yang sebenarnya. Keadaan yang sebenarnya akan senantiasa terdistorsi. Seperti ingatan rakyat yang pendek tentang jenderal di masa lampau berlumuran darah yang saat ini mencalonkan diri menjadi RI 1. Hujan informasi dalam bentuk iklan simbolis ini akan membuat rakyat sebagai penonton awam menyaksikan pahlawan ‘simbolis’ dalam panggung politik. 

Kita berharap media massa dapat lebih berimbang dalam menampilkan iklan politik. Dan tentu saja kita membutuhkan peran Komisi Penyiaran Indonesia yang mempertegas regulasi. Agar masyarakat penonton di Indonesia tidak hanya memiliki televisi berisikan iklan politik yang penuh distorsi. 

Panduan berpolitik di ruang keluarga bisa dimulai dengan hadirnya konten politik yang lebih berkelas daripada sekadar iklan politik atau tayangan talkshow yang menyudutkan partai politik tertentu. Seperti acara Provocative Proactive yang kritis namun tendensius. Kritis yang tidak mencerdaskan penontonnya. 

Panduan yang penulis maksud adalah seperti mengajarkan penonton untuk dapat lebih cerdas dalam memilih calon pemimpin yang baik, panduan bagi kaum pemilih pemula, dan jika pun ada iklan yang masuk harus disertakan sosialisasi program partai yang nyata dan bukan abstrak. Kalau pun ada talkshow, perlu menghadirkan para kandidat dari tiap partai politik, bukan hanya sekali ajang debat kandidat pada saat sudah dekat pemilihan umum. 

Dan masyarakat Indonesia harus lebih pandai memilah acara di dalam ruang keluarga dengan kotak ajaib bernama televisi. Literasi masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia yang masih buta alfabet media massa dan panggung politik. Selagi panduan berpolitik itu belum dihadirkan oleh media massa ke ruang keluarga kita, maka kita yang perlu memandu keluarga kita dalam melihat panggung politik. Semoga kita semua dapat saling mengingatkan keluarga dan orang terdekat kita untuk dapat berdiet menonton televisi.

Senin, 13 Februari 2012

Pelangi

Aku tak pernah sesendu ini menyaksikan pelangi. Tapi pada saat aku mendapati pelangi di sore itu, tertanggal 10 Februari 2012, aku terpanggil untuk mengikatnya dalam ruang memori. Pelangi ini akan membuatku selalu mengenang. Tentang kampusku, Tentang warnanya, Tentang hidup dalam kampus yang berwarna. Meski gambar tidak dapat merepresentasikan perasaan ini seluruhnya. Tapi setidaknya ada hal yang dapat kembali kulihat saat aku mengalami perasaan yang sama.

Tentang Perempuan, Kaumku

Pernahkan kita semua bercita-cita untuk memiliki jenis kelamin tertentu. Tentu tidak. Itu terjadi begitu saja. Seperti kebanyakan perempuan. Bukan keinginannya untuk hidup di bawah bayang-bayang lelaki. Dengan doktrin bahwa perempuan tercipta dari tulang rusuk lelaki memunculkan pandangan bahwa posisi lelaki selalu berada di atas perempuan. 

Perempuan hanya butuh kesempatan, bukan pandangan direndahkan dan dijadikan warga kelas dua. Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbanyak tidak dapat lepas dari budaya timur yang cenderung patriarki. 

Dulu sekali ada seorang perempuan Indonesia bernama Kartini yang berjuang sendiri untuk kaumnya dapat bersejajar dan memperoleh haknya dalam pendidikan. Di tengah kaum yang sangat patriarki dan seksis, Kartini bergelut. Meski akhirnya ia harus meninggal karena melahirkan, perjuangannya membuahkan pencerahan bagi perempuan Indonesia. 

Dalam konteks masa kini, memang perempuan sudah dapat hidup lebih baik. Dapat bersekolah sampai ke jenjang yang tinggi, berkarir, memimpin perusahaan, memimpin pemerintahan daerah, bahkan menjadi presiden. Namun itu kebanyakan terjadi pada masyarakat urban, pada kalangan yang berpendidikan. Masih ada yang belum mampu untuk mengakses pendidikan, dan masih terkungkung dalam budaya patriarki, budaya domestifikasi perempuan. 

Seperti yang dituturkan Elizabeth Fisher dalam bukunya Woman’s Creation, bahwa domestifikasi perempuan terjadi setelah domestifikasi hewan. Ketika manusia mulai memelihara binatang, laki-laki mulai berpikir untuk mulai memiliki anak, berawal dari memiliki seorang perempuan dan mengontrolnya. Pernahkah kalian berpikir bahwa emansipasi yang diperjuangkan Kartini belum optimal. 

Saya berpikir bahwa kita seolah berada di gurun ketika dari jauh kita melihat fatamorgana. Seolah-olah ada oase di depan, namun kenyataannya itu semu. Saat ini, banyak perempuan yang bekerja, baik di perusahaan swasta maupun sebagai pegawai negeri. Namun sedikit dari mereka yang bertindak dan diakui suaranya dalam proses pengambilan keputusan. Ketika seorang perempuan akan maju mencalonkan diri sebagai pemimpin, kenapa banyak lontaran pertanyaan tentang kredibilitas dan kemampuannya memimpin. Padahal pertanyaan itu tidak dilemparkan kepada laki-laki yang akan mencalonkan dirinya. 

Banyaknya dari kita terbuai oleh fatamorgana, dan tidak menyadari adanya deksriminasi halus yang masih memenuhi paradigma berpikir kebanyakan orang. Mungkin kita memang sudah menjabat posisi tertentu dalam sebuah struktur, tapi apakah suara kita didengar. Dan atau lebih parahnya, apakah kita yang menjabat posisi atau jabatan strategis merasa membawa banyak suara yang harus diperjuangkan. Jangan-jangan tidak. 

Saya punya cerita yang miris ketika bertandang ke kementerian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Saat itu kami tidak bisa dipertemukan dengan staf ahli atau deputi menteri tapi hanya bertemu dengan humas. Dari obrolan saya menangkap bahwa kementerian tidak terlalu menguasai isu-isu keperempuanan. Artinya jabatan yang digenggamnya sekarang belum dapat melepaskan belenggu perempuan dari deskriminasi dan seksisme. 

Saya memang Islam, tapi menurut saya praktik poligami merupakan bentuk lain dari deskriminasi terhadap perempuan dan tindakan domestifikasi perempuan. Memang perihal poligami termaktub dalam Al-Quran boleh beristerikan satu, dua, tiga atau empat, tapi kerap kali ayat ini dikutip secara parsial, padahal jika tidak mampu berlaku adil maka satu saja. Poligami yang berkembang dewasa ini berawal dari nafsu, jika saya boleh berkata pedas. 

Ketika seorang lelaki merasa tertarik kepada wanita lain selain isterinya. Maka untuk melegalkan nafsunya dia menikahinya. Dan lagi-lagi memilikinya, inilah bentuk domestifikasi perempuan. Dimiliki dan dipelihara. Jangan bawa nama Nabi Muhammad dalam hal poligami sedangkan di sisi hukum yang lain kebanyakan laki-laki menafikan ajaran yang dibawanya. Lagi pula poligami Nabi adalah setelah kematian Siti Khodijah isteri pertamanya, dan orang-orang yang diperisterikan olehnya adalah mereka kaum papa, dan ada beberapa janda. Bukan seperti poligami yang banyak terjadi sekarang. 

Harusnya kita bisa lebih mengarifi teks yang Tuhan berikan sebagai panutan, dan tentunya memahaminya secara lebih humanis. Memanusiakan manusia. Memanusiakan perempuan. Perlu diketahui bahwa kenapa perempuan mendapat setengah bagian dari laki-laki, karena ketika sebelum ayat pembagian waris turun, kebanyakan bangsa Arab menikah antar suku atau kabilah agar terjalin ikatan silaturrahim. Ketika suami meninggal harta isteri menjadi milik suku suaminya, sehingga pada saat itu sering terjadi penumpukkan harta di antara suku tersebut dan mengabaikan keberadaan isterinya. Maka ayat ini turun sebagai jawaban atas ketidakadilan tersebut. Dan kenapa porsinya lebih sedikit? Itu karena agar tidak terjadi pertikaian antar suku. Islam sudah menjawab hak perempuan sebagai seorang pribadi atau manusia yang mampu mengurus hartanya. Namun, herannya kadang ayat tersebut menjadi landasan atas perbedaan antara perempuan dan laki-laki. 

Konteks masa kini, banyak dari perempuan yang menikah dan diberi hak beraktualisasi oleh suaminya, namun dalam peran di wilayah domestik yang menjadi kodrat kerap laki-laki enggan membantu dan berbagi tugas kerumahtanggaan dengan perempuan. Atau ada dalam beberapa kasus perceraian akibat jabatan isteri lebih tinggi daripada suami. Dalam kasus seperti di atas tidak lepas dari paradigma laki-laki yang tetap patriarki dan seksis. Memang kenapa kalau isteri lebih tinggi jabatannya? Apakah ego mereka yang membuat perceraian tersebut karena tidak terima dengan kenyataan tersebut. Atau isteri yang kerap dianggap tidak patuh terhadap suami. Kepatuhan dalam bentuk apa. Kenapa ketika laki-laki kerja dan harus keluar kota, tidak jadi masalah namun lain halnya jika perempuan yang terlalu mobile menjadi masalah, karena dianggap mengabaikan kodrat. 

Kodrat menurut hemat saya, adalah peran perempuan yang tidak bisa digantikan laki-laki, seperti mengandung, melahirkan, menyusui. Jika ketiga hal itu dapat dilakukan perempuan di tengah aktifitasnya kenapa harus dipermasalahkan. 
Perempuan hanya butuh kesempatan. Kesempatan untuk diberi akses untuk beraktualisasi tanpa mengungkit kodrat. Dan tentu saja dimengerti, bukan dideskreditkan. Bukan diungkit kesalahannya atas nama kodrat. 

Kepadanya

Aku ingin bercerita tentangmu melalui bahasa tak beraksara. 

Bahasa yang bahkan tak ada seorang penyair pun yang mengungkapkannya. 

Ia hanya mengalir seperti air yang telah menemukan muaranya dan ingin bergegas menghampirinya. 

Kamu suka tulisanku, dan aku suka menuliskan tentangmu. Jadi, apa yang menghalangiku untuk kembali menulis? 

Kamu hanya tidak mengerti bahasaku. Seperti ketidaksanggupanmu membaca rinduku. Rindu yang telah lama mencipta sembilu di kalbu. Mungkin bahasaku harus menjadi angin. Meski tak nyata dapat kamu baca melalui matamu, namun ia ada berhembus menyegarkanmu.

Tak perlu kamu mengerti, hanya perlu kamu rasa. Itu saja cukup bagiku. 
Karena aku ingin kamu mengetahui bahwa aku selalu ada untuk membuatmu nyaman. Di sini. 

Bagiku mencintaimu seperti bernafas di udara bersih, segar dan melegakan.
Karena kamu satu.
Ganjil yang menggenapkan.
Kekurangan yang melengkapi.
Dan kelebihan yang menyempurnakan. 

Aku mencintaimu.

Minggu, 12 Februari 2012

Tertipu Penjual Oleh-Oleh

Pertengahan Januari lalu aku dan teman-teman kelasku mengadakan perjalanan ke Bandung. Perjalanan yang membuat kami akan selalu mengingat momen saat kali berkuliah di universitas. Tapi bukan tentang momen yang mengharu biru yang akan kuceritakan di blog ini. Hanya cerita lucu di balik rasa iba konsumen terhadap penjual oleh-oleh buah stawberry. Jadi begini, Aku dan teman-teman satu mobil saat itu sedang menunggu teman-teman di mobil lainnya bernegosiasi untuk tiket masuk ke Kawah Putih, dan seorang penjual strawberry mendekati jendela mobil kami dan mulai menawarkan produknya. Sebagai pembeli tulen, kami tentu menawar. Dari harga 20 ribu, kami tawar setengahnya 10 ribu. Awalnya tidak dapat, hampir saja kami tambahkan harga menjadi 12 ribu, tapi ternyata si Ibu (ya penjualnya memang perempuan) memberikan strawbeery itu dengan harga yang kami inginkan yaitu 10 ribu.
Awalnya kami merasa menang, dengan harga 10 ribu dapat menikmati strawberry dengan jumlahnya yang lumayan daripada kami beli di pasar. Tapi ternyata kami tertipu. Haha. Kenapa? Karena...
Yak, seperti tampak pada gambar di atas banyak strawberry yang busuk, dan bagian yang busuk itu tidak ditunjukkan keluar melainkan dibalik sehingga tertutup. Yang tampak adalah yang bagus-bagusnya saja (si ibu ini mengerti teori pencitraan juga rupanya hehe), teknik marketing yang bagus, tapi ya menipu tetap tidak baik. Lalu tipuan selanjutnya adalah...
Nah, kardusnya lebih banyak daripada strawberry-nya. Padahal hanya satu baris saja strawberry-nya, hiks.. Kami pikir di bawah bagian yang ter-display ini ada lagi setidaknya satu baris lagi. Ternyata kami ter-ti-pu. Jangan pernah iba dengan penjual oleh-oleh. Harus lebih sadis lagi kalau menawar ya teman. Haha. Dan kami pun mabok strawberry karena kami beli dua boks.
Sekian. Model di atas adalah saya dan dua orang teman saya: Aisyah Makkiyyah dan Fajria Nursela